Cerpen: Titik Nol

Hai hai, hari ini aku ngebagiin ke kalian cerpen yang pernah aku bikin semasa aku hidup wkwkwkwk. Ini cerpen umurnya udah dua tahun lebih dan sebenernya udah pernah aku upload di platform lain, cuma udah aku hapus hehe. Nah aku upload lagi di sini karena why not?

Setelah baca-baca lagi ini cerpen, aku merasa ini cerpen berantakan banget. Isinya murni emosi aja. Latar belakang cerpen ini juga sebagai sarana aku venting waktu masa-masa penyusunan skripsi sih, jadi harap maklum ya guys hihihi. Sebenernya pingin juga ngelanjutin cerpen ini, tapi aduh ga ada waktunya lagi hehew.

Oke deh, selamat membaca ya. Tell me what you think about my short story on the comments below!


WARNING: cerpen ini tidak untuk direproduksi dalam bentuk apapun tanpa izin dari Matamatcha sebagai penulis. Cerpen ini adalah sebuah karya fiksi; kesamaan nama, lokasi, dan sebagainya hanyalah kebetulan semata.

"DRRRTTT... DRRRTTT..."

Handphone di samping bantal yang dalam mode getar itu membangunkanku dari tidur.

"Aneh," gumamku dalam pikiran yang masih setengah sadar sambil mengingat apakah aku menyetel alarm siang tadi. Seiring perginya awan-awan kelabu yang menyelimuti kesadaranku, akhirnya jelas aku mengingatnya. Kondisiku yang belum tidur nyaris seharian untuk mencoba memperbaiki jam tidur, jelas membuatku tidak menyetel alarm. Tidak tidur untuk memperbaiki jam tidur—ironis. Namun rencana itu gagal ketika kepala ini memutuskan untuk jatuh kedalam rayuan alas tidur empuk nan menggoda.

Handphone itu masih bergetar. Jika itu bukan alarm, lantas mengapa ia berani membangunkan pemiliknya? Apakah itu sebuah telepon? Siapa gerangan yang meneleponku? Pertanyaan itu memunculkan perasaan aneh di hati, karena handphone itu sudah sangat berdebu dan mengering saking sudah jarangnya ditelepon orang hingga terasa aneh jika ada yang menelepon. Jika berpikir mengenai telepon, aku selalu tertarik kembali ke masa-masa dimana handphone ini dan sang pemiliknya sangat berenergi karena selalu datang telepon dari Ega, wanita yang kusayang dan kupercaya lebih dari apapunpada masanya.

Jika teringat Ega, kepala ini terbang ke segala tempat di Jogja dalam waktu singkat, seolah aku mampu kembali ke masa lalu dan waktu melambat sedemikian rupa hingga pilu yang ada di berbagai lini waktu datang menusuk satu titik di hati, dalam waktu kurang dari satu detik. Semenjak ia pergi, berjalan-jalan di Jogja terasa seperti mengarungi semak-semak berduri dan rintangan pemukul seperti di acara televisi Wipeout. Semakin traumatis, semakin banyak pula durinya. Semakin indah suatu memori, semakin banyak pemukulnya. Jika aku tidak berhati-hati, bisa-bisa aku pulang dengan hati penuh luka dan lebam.

Handphone itu bergetar kembali, yang lagi-lagi menyadarkan dan membawa diriku yang sempat hanyut terbawa arus masa lalu pilu itu kembali pulang. Kusadari perasaanku kembali lebam membiru, namun kali ini aku biasa saja. “Mungkin sebuah pertanda baik?” tanyaku dalam hati. Aku segera memutar badanku dan segera mengambil handphone usang tersebut. Dengan mata yang sebelah terbuka, kulihat sang penelepon: nomor tak dikenal. Aku mengernyitkan mata dan dahi, berusaha memfokuskan mata untuk melihat foto profil Whatsapp-nya, namun sulit mengenali siapa yang ada di gambar buram itu.

"Siapa, sih? Ganggu orang tidur aja," gerutu diriku yang kesal setelah menyadari ada nomor yang tak dikenal langsung menelepon tanpa mengirim pesan terlebih dahulu. Kukembalikan handphone yang masih bergetar itu kembali ke tempatnya hingga ia lelah sendiri, dan aku berusaha kembali mendatangi alam mimpi. Namun apa daya, sudah hilang kantukku. Apa boleh buat, aku telentang menatap langit-langit dan dinding kamar yang berpendar redup merah jambu karena cahaya matahari menembus jendela yang gordennya tersingkap.

Handphone itu lagi-lagi bergetar, tetapi dengan ritme getar yang cepat. Nomor itu kali ini mengirimku pesan, yang dengan segera kubaca.

"Halo Pram, ini Mbak Vita. Mbak lagi di Jogja nih, ketemuan yuk?"

Membaca pesan tersebut, aku cukup kaget hingga kesadaranku kali ini benar-benar 100%. Mbak Vita adalah sepupuku yang sudah sangat lama tidak kujumpai karena rumah kami terpisah sangat jauh—rumahku di Sumatera dan rumahnya di Jawa. Terakhir bertemu dengannya adalah sekitar 10 tahun yang lalu, ketika tersiar kabar ke Ayah bahwa Kakek meninggal dan kami sekeluarga langsung terbang melayat. Aku selalu ingat bagaimana Mbak Vita berusaha menenangkanku, mendekapku dekat dan erat ketika aku menangis waktu itu. Mbak Vita orangnya baik. Dengan tubuh berkulit sawo matang dan tidak terlalu tinggi, rambut coklat lurus sebahu, dan kombinasi bentuk mata dan bibir yang selalu menghasilkan senyuman manis, menurutku Mbak Vita cantik—setidaknya untuk aku yang masih kecil. Lucu jika mengingat aku sempat menyukainya karena ia berkarakter seperti seorang ibu hingga aku berpikir apakah suatu saat aku bisa berpacaran dengannya, tanpa mengingat jarak umur belasan tahun yang ada di antara kami. Yaah, namanya juga anak-anak, dimana imajinasi sungguh luas dan tak mengenal batas waras.

Mungkin perasaan anak kecil nan labil itu masih ada dan sedikit terbawa sampai sekarang, hingga aku masih kaget dan mungkin juga senang. Tetapi aku cukup grogi membayangkan akan bertemu dengannya karena sudah lama sekali tidak bertemu; cemas apa yang akan terjadi ketika aku menemuinya nanti. Lebih tepat jika kubilang aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasa. Gado-gado dan nano-nano adalah deskripsi yang paling mendekati.

"Oh iya Mbak, maaf aku tadi tidur. Mbak sampai kapan di Jogja?"

Setelah kubalas pesannya, Mbak Vita kembali menelepon. Aku langsung terduduk namun tidak langsung mengangkatnya, malah kulihat dulu layar handphoneku yang bergetar itu beberapa saat; memproses perasaan nano-nano di dada dan di kepala, berusaha menenangkan diri agar tidak canggung di telepon. Aku menarik sebuah napas panjang, lalu mengangkat teleponnya.

"Halo," sapaku persis seperti ketika aku menyapa orang yang tak dikenal.

"Halo, Pram... Yeay, hihihi," balas Mbak Vita dengan aura suara penuh kegembiraan bisa kembali berbicara dengan sepupunya.

Ketika kudengar suaranya, aku terdiam beberapa saat, lagi-lagi untuk memproses—bukan hanya nano-nano dan kecanggungan di dalamku, tetapi juga intonasi suara Mbak Vita. Entah kenapa mentang-mentang sudah lama tidak bertemu, aku berekspektasi suaranya akan berubah tapi ternyata tidak; suaranya masih lembut dan menenangkan seperti dulu. Entah apa yang kurasakan setelah mendengarnya, anehnya terasa seperti rindu.

"Jadi gini, Pram," lanjut Mbak Vita yang medhoknya baru terdengar, "Ini Mbak lagi otw ke Malioboro, sekitar 40 menit lagi sampai. Pram lagi ngelembur tugas akhir, ta?"

"Nggak juga sih Mbak, hari ini aku lagi selo. 40 menit kok jauh banget e, Mbak? Mbak nginep dimana?"
"Ini aku abis dari pantai di Gunungkidul terus langsungan ke Malioboro. Mbak nginep di Villa Vanya, Jalan Lempong Sari, dekat kah sama kosnya Pram?"
"Aku nggak tahu e, Mbak, itu ada dimana. Mbak sama siapa di sini? Rame po, Mbak?" tanyaku. Medhok-nya Mbak Vita membuatku jadi ikut-ikutan medhok ala anak rantau Jogja.
"Rame po, Mbak," Mbak Vita mengulang pertanyaanku seolah ia notice aku berbicara medhok, "Ini Mbak sama 4 orang teman. Kamu mau nginep di Villa, ta? Ini diajakin temanku, katanya bisa berenang bareng nanti," kata Mbak Vita dan sayup-sayup terdengar suara teman-temannya di mobil itu.

Tawarannya menarik, dan sebenarnya aku tertarik. Tetapi aku yang introvert ini tidak yakin apakah aku mampu menghidupkan suasana di tengah orang-orang yang tidak kukenal. Dari ajakan Mbak Vita, aku sudah membayangkan teman-temannya adalah sekumpulan anak muda ekstrovert yang seru.

Kemudian aku membalas,

"Hmm, iya liat nanti deh, Mbak," dengan nada-nada mau tapi malu.

"Hahaha, yaudah gini aja. Kita ketemuan di Malioboro. Mbak Vita 40 menit lagi sampai, nanti kita ngobrol-ngobrol di sana. Nanti kabar-kabaran ya."
"Oke, Mbak, siap. Hati-hati ya, Mbak. Dadah," tutup aku di telepon itu.

Lalu aku duduk termenung, entah apa yang kurenungi. Luka dan lebam itu, aku masih merasakannya. Memang aku tampak biasa saja, namun bukan berarti aku tidak apa. Aku hanya berlagak kuat dengan harapan semua akan baik-baik saja. Di sisi lain, ada secercah sinar cerah ceria yang menghampiri hati setelah Mbak Vita menelepon. Aku tidak sedekat itu dengannya, namun entah mengapa aku merasa gembira. Mungkin aku rindu. Aku segera bergegas, bersiap diri menuju Malioboro.

30 menit bersiap, dan 15 menit kemudian aku sudah ada di Malioboro. Nahas, aku lupa kalau jam 7 malam Jalan Malioboro ditutup sehingga kendaraan tidak bisa melintas. Sejenak aku berhenti di tepi jalan dan mengecek handphone. Ternyata Mbak Vita mengirim pesan sekaligus lokasinya.

“Pram, kamu parkir di depan gedung BNI saja ya. Mbak Vita tunggu di Titik Nol.”

Kebetulan macam apa ini. Pilu hati tadi sore kembali terasa hanya dengan membaca nama tempat itu. Ah, lupakan. Aku harusnya gembira karena akan bertemu Mbak Vita. Aku bergegas melanjutkan perjalanan.


Titik Nol Jogja (sumber: maioloo.com). Gambar hanya ilustrasi.

15 menit kemudian—setelah sempat tersesat karena harus memutar jalan lain—aku sampai di Titik Nol. Mbak Vita langsung menelepon menanyakan posisiku dimana. Belum sempat kukatakan, Mbak Vita sudah terlebih dahulu melihatku di seberang jalan sambil melambaikan tangannya. Aku nyaris tak melihatnya karena tubuhnya yang ternyata jauh lebih mungil dibandingkan bayangan terakhirku. Ia terlihat imut dalam dress putih selutut, walau terlihat kontras dengan warna kulitnya—mungkin itu karena ia baru saja dari pantai. Aku menyeberang jalan, berjalan mendekatinya yang sudah merentangkan tangan kepadaku. Senyumku sumringah, walaupun ia tak melihatnya karena wajahku tertutup masker.

Aku jatuh ke dalam pelukannya.

“Sepupuku tersayang... akhirnya kita ketemu lagi,” katanya, sambil mendekapku erat.

“Hehehe, iya mbak,” balasku. Akhirnya aku kembali berpelukan dengan seseorang, dan momen itu membuatku kembali merindukan hangatnya pelukan Ega. Aku meresapi hangatnya pelukan Mbak Vita, mengharap ia adalah Ega.

Ia melepas pelukannya, dan kami pun mengamati wajah satu sama lain. Wajah Mbak Vita tetap sama seperti dulu, hanya saja sekarang terdapat beberapa keriput di ujung matanya. Kami saling melepas rindu, dan bercerita mengenai kabar kami masing-masing. Ia kemudian mengenalkanku kepada lima temannya yang juga duduk menungguku. Ingat dengan bayanganku mengenai mereka yang muda dan ekstrovert? Mereka ternyata lebih cocok dengan sebutan bapak-ibu gaul. Aku mulai menyalami mereka, namun sebagian mereka lebih memilih brofist. Mereka ini teman Mbak Vita yang notabene masih terlihat seperti seorang gadis bagiku; aku bingung harus memanggil mereka apa.

Mbak Vita kemudian mengeluarkan handphonenya dan menelepon Ibunya, memamerkan ke keluarga besarnya di sana bahwa ia sudah bertemu aku. Mereka semua gembira, dan kegembiraan itu rupanya menular. Aku akhirnya mampu merasa bahagia setelah sekian lama. Senyumku sangat lebar karena turut melihat senyum rindu mereka. Telepon itu telah membuat lebamku tadi memudar.

Telepon berakhir dan kami melanjutkan obrolan.

“Kamu nggak ngapel, ta?”

“Ngapel sopo to, Mbak?”
“Loh?! Bukannya kamu ada pacar?”

Aku terdiam sejenak.

“Udah putus, Mbak.”

“Lah, iya ta?”
“Aku diselingkuhin,” kataku sambil cemberut namun tersenyum, seperti anak kecil.
“Waduh? Gimana ceritanya?”

Inilah memori yang membuatku lebam tadi sore. Aku masih ingat setiap detilnya, dan tempat dimana aku berada sekarang seolah menjadi penguat sinyalnya. Titik Nol Kilometer Jogja, salah satu tempat yang penuh kenangan sekaligus traumatis. Kala itu seharusnya menjadi momen indah buatku dan Ega; bermesraan di bangku samping jalan dengan suasana yang hangat—walaupun malam itu dingin—didukung oleh lampu jalan berwarna hangat, sambil mendengar suara derap kaki kuda dan menonton kendaraan mengantre di depan lampu merah.

“Pram, maafin aku,” kata Ega, memecah damainya hening di antara kami.

Ngopo to kowe iki, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba minta maaf.”
“Aku mau jujur sama kamu. Kalaupun aku nggak jujur, kamu pasti udah curiga, kan?”

Aku yang tadinya dengan santai menyandarkan kepala di bahu Ega, seketika menjadi tegang. Aku memang menyadari seminggu belakangan Ega terasa bukan seperti Ega. Ia mendadak terlampau sangat sayang dan sangat takut kehilangan aku ketika kami terlibat dalam perdebatanbahkan ketika aku ngambek guyonan, dan itu terasa sangat tidak biasa. Sekarang setiap sendiku seolah berubah menjadi engsel kering, dan jantungku berdegup kencang berusaha mendobrak keluar. Aku takut kepada sesuatu yang tidak pasti, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku menelan ludah, memberanikan diri menatapnya yang tertunduk.

Ia mengangkat kepalanya, lalu menoleh kepadaku.

“Seminggu ini, aku jalan dengan Grego.”

Aku terdiam, melumpuh. Saat akhirnya malam terasa dingin, barulah kusadari bahwa darahku telah mengering karena panasnya kening. Hanya bibirku yang mampu bergetar, entah karena menggigil dingin atau terbakar api emosi. Atau keduanya.

“Kenapa kamu baru ngomong sekarang?”

Iya, maaf aku salah, aku nggak tau aku kenapa.”
“Aku nggak ngerti, Ga.”
“Aku juga nggak ngerti.”
“Lah, gimana sih?”
“Aku udah bilang, aku nggak tau aku kenapa.”
“Gimana mungkin kamu nggak tau kamu kenapa? Kamu jadi zombie seminggu kemarin?” tanyaku yang masih berusaha mencairkan suasana di tengah kekalutan ini sambil tersenyum tipis yang dibumbui getar-getar kecewa.
“Pram, aku nggak tau!”

Dia yang salah, dia yang galak.

“Bukan main.”

“Pram… Maafin aku.”

“Kamu masih sayang dia, po?”
“Aku… nggak tau.”
“Berarti iya.”
“Enggak gitu, Pram.”
“Kalo nggak gitu jadi gimana, Ga? Kalau enggak, ya enggak. Bukan nggak tau.”
“Aku cuma lagi bingung dengan semuanya.”
Kamu jujur tapi kamu bingung, lha aku ya opo sing ora ngerti opo-opo? Sek yo, mungkin pak kusir kuwi lebih nger
“Mungkin iya.”
“Hah?”
“Mungkin aku masih sayang.”
“Ga, aku nggak paham. Kenapa kamu tiba-tiba kayak gini? Aku kurang apa sih sama kamu?”
“Nggak ada, Pram, nggak ada. Kamu baik, pinter, penuh perhitungan, gante—”
Ya terus kenapa, Ga?!” potongku yang mulai hilang kontrol diri.
“A-aku nggak tau, Pram. Mungkin cuma sesimpel aku masih sayang sama dia.”
“Katamu hatimu aku? Katamu udah nggak ada lagi rasa untuk dia? Berarti selama ini semuanya omong kosong doang?”
“Enggak, Pram. Aku sayang banget sama kamu, Tuhan yang tau. Tapi salahnya aku yang ternyata masih sayang dia. Akunya aja yang terlalu egois untuk kalian.”
“Halah, bullshit. Tapi makasih ya, Ga, udah mau jujur dan ngerusak kepercayaanku.”
“Cuma aku kok yang begini, orang lain enggak.”

Aku diam. Ia tertunduk, menangis dalam diam. Kami diam di tengah keramaian dan gemuruh kendaraan.

“Aku pergi ya?”

“Pergi itu tanggung jawab?”
“Pram, aku nggak sebaik yang kamu kira. Kamu pantes dapat yang lebih baik—
Kenapa nggak kamu saja yang berbenah untuk jadi lebih baik? Apa aku nggak se-worth-it itu untukmu?
Bukan.”
“Jadi?”

Ia tertunduk lagi, kali ini disertai desah lelah.

“Aku nggak habis pikir kenapa kamu masih sayang sama dia setelah 4 tahun kita—"

Apa semua pertanyaan harus ada jawabnya?

Aku membatu. Ia menatapku tajam, menyembunyikan segala emosi yang ia rasakan, lalu menjawab pertanyaannya sendiri.

...aku rasa enggak.

Mbak Vita ternganga, padahal itu baru satu dari seribu satu luka.

Gapapa wis, biarin aja ya? Dia bener kok—kamu pantes dapet yang lebih baik. Masih banyak orang lain, ‘kan?”

Aku hanya mengangguk tersenyum.

“Ya sudah. Mbak Vita pulang dulu ya?”
“Loh kok cepet, Mbak? Baru ketemu sebentar,” kataku dengan nada sedikit sedih.
“Iya, ini besok masih teman-teman ada kerjaan pagi-pagi.”

Yaah, Mbak. Aku kan masih mau cerita banyak,” kataku dalam hati. Aku tertunduk, semangatku yang tadi hinggap sekarang terbang melayang.

“Gapapa to, Pram. Next time kamu yang nyamperin Mbak Vita. Nanti Mbak jemput pakai mobil. Mbak sudah bisa naik mobil lho hihihi,” katanya sambil memeragakan cara menyetir mobil.

“Oke deh, Mbak. Hati-hati ya pulangnya, Mbak.”
“Kamu baik-baik ya di sini, semoga cepat selesai studinya. Tuhan membimbing Pram. Mbak Vita tunggu kamu di Surabaya,” katanya sambil menepuk-nepuk dadaku layaknya sepasang kekasih yang akan berpisah.

Kami berpelukan, kali ini aku memastikan dekapanku erat.

“Dadah, hati-hati di jalan ya, Dek,” katanya dari kejauhan sambil melambaikan tangan.

Aku membalas lambaiannya, lalu mulai berjalan ke parkiran motor.

Aku berjalan pelan, tanpa alasan. Wajahku polos seperti lembar kertas baru, isinya yang kosong persis menyerupai isi hatiku. Aku seperti menyusuri kota mati meskipun kenyataannya tempat ini tak mengenal sepi. Motorku sudah tinggal beberapa langkah, namun aku malah terduduk di kursi tepi jalan. Tatapanku hampa sebelum kusadari air mataku sudah mengalir deras. Aku terlalu sibuk berusaha menyumbat mata air itu hingga tak sadar aku sudah terduduk di kursi saksi bisu memori pilu itu.

Aku tak mengerti apa yang kurasa,” penggalan lagu Pupus oleh Dewa 19 itu adalah deskripsi yang paling mendekati. Semua terasa seperti bumbu dapur yang bercampur menjadi sesuatu yang tak berbentuk dan bahkan tak bisa kau cicipi. Aku hanyut dalam kebingungan dan waktu begitu cepat berlalu. Sekarang tempat ini benar-benar menjadi seperti kota mati, hanya aku yang masih hidup mematung di bangku itu. Dulu Ega dan aku, sekarang aku dan diriku yang berdebat. Perdebatan kami itu memberi titik terang soal gejolak emosi yang aneh di tengah gelapnya malam.

Dengarkan aku. Siapa sih yang senang dengan orang bermuka dua? Secantik-cantiknya seorang wanita, pasti orang akan takut dan menjauhi juga kalau ia bermuka dua—soalnya kayak alien, hehe. Tapi serius. Bukan maksudku mengatakan Ega adalah orang yang bermuka dua, tapi tempat ini. Ya, Titik Nol Kilometer, tempat yang sungguh menawan tapi bermuka dua. Siapa yang berharap kalau di Titik Nol ini bisa punya dualisme—jadi titik nol rasa cinta yang baru sekaligus jadi titik nol trauma yang biru—hingga ketika dihadapkan dengan keduanya dalam satu waktu, cuma air mata yang sanggup jadi wakilmu? Kurasa tidak ada seorangpun yang mau. Sialnya, dualisme itu menodai tempat cantik ini di kepalaku. Sialnya lagi, cinta yang baru itu juga bermuka dua; sedari awal aku mengharap sepupuku tadi adalah mantanku yang notabene telah menyakitiku.

Cinta itu memang baru — baru saja kurasakan setelah sekian lama. Namun aku masih merindukan cinta yang lama. Mengapa aku merindukan seseorang yang melukaiku? Apakah aku tidak waras? Mengapa ia melukaiku? Apakah aku tidak cukup baik? Atau justru aku terlalu baik? Apa kurangku dibanding orang itu? Apakah masih ada sedikit saja aku di hati dan pikirannya meski ia sudah bersama yang lain? Apakah ia masih memikirkanku seperti aku memikirkannya? Apakah ia mengingatku? Apa kabarnya?

Ah, barangkali surga punya jawabnya,” pikirku sambil membaringkan kepala, menatap langit yang berpendar redup karena cahaya bulan menembus langit yang gordennya tersingkap. Perlahan kututup jendela dunia dan kudatangi alam mimpi. Di sana kutemukan satu pertanyaan yang jawabannya menjawab semua pertanyaan itu; jawaban yang terus menggema di relung hati sejak lahir dari lidah penciptanya:

Apa semua pertanyaan harus ada jawabnya? Aku rasa enggak.

Comments

  1. waw.. nice one! komentarku mungkin agak panjang, semoga berkenan

    alur/plot ceritanya lumayan rapi, caramu menyambungkan flashback and present udah bagus, setting segala macemnya juga oke, penyampaian pov nya juga bagus. tbh, aku kaget liat penggunaan kata dan penyusunan kalimat yg km pake, emosinya bisa tergambar. aku jadi minder sendiri, haha, kemampuanku dalam berbahasa ga sebagus itu (dan aku belum ada waktu untuk baca baca lagi, hehe).
    mungkin, diperhatikan lagi untuk pengulangan kata, contoh: gorden yang tersingkap, dan beberapa yg mungkin agak 'risih' dibacanya (cara taunya, biasanya dibaca berulang), kembangin terus aja, keren kok!
    tapi untuk yg bukan dari latar belakang seni, menurutku ini udah bagus, aku suka
    cukup ini aja yg bisa aku komen, bukan bidangku juga (aku cuma pernah berkecimpung di dunia seni, tapi bukan fokusku, hehe)
    udah deh, udah kepangjangan banget komentarku, wkwk

    -arai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Arai untuk reviewnya :)

      Delete

Post a Comment

Popular Post!